Top Ads

Suasana Lebaran di Tengah Pandemi


Wali Kota Sukabumi, H. Achmad Fahmi mengimami langsung pelaksanaan Sholat Ied. Menurut wali kota, Idul Fitri tahun ini mungkin akan membuat seluruh masyarakat muslim bersedih, terharu dan mungkin merasa hampa. Karena Idul Fitri tahun ini tidak bisa dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya.




Salat Idul Fitri diselenggarakan dengan cara dibagi menjadi beberapa lokasi di setiap kampung untuk mengurangi kerumunan dalam skala lebih besar. Dengan cara ini, kerumunan jamaah yang semula biasa terkonsentrasi di satu tempat, sekarang menjadi lebih menyebar dalam bentuk kelompok baru dengan jumlah jamaah pada kisaran 30-80 orang.

Bagi muslim yang merayakan Idul Fitri, salat Id merupakan pertemuan besar tahunan. Orang sekampung berkumpul di satu tempat, di mesjid atau di lapang. Setelah mengawali dengan mandi besar, bersuci, mengenakan pakaian terbaru, serba wangi, dilanjutkan dengan sarapan sebagai amalan sunnah kemudian pergi ke tempat pelaksanaan salat Idul Fitri. Wajah setiap orang dibalut rona bahagia, bahwa hari itu adalah kemenangan bagi mereka.

Setelah khotib selesai membacakan khutbah, orang-orang satu kampung tidak meninggalkan mesjid atau lapangan, tradisi yang telah diwariskan turun-temurun yaitu bersalam-salaman saling memaafkan satu sama lainnya, diiringi pelafalan sholawat mereka membentuk lingkaran besar agar setiap orang benar-benar dapat bersalaman secara bergiliran dan merata.

Di tengah pandemi Covid-19, tradisi di atas tidak hilang sama sekali, tetapi secara kuantitas dan kualitas mengalami penurunan jumlah dan rasa. Mereka juga dipaksa berhadapan dengan suasana baru, salat Idul Fitri diselenggarakan secara berjamaah di tempat baru, bukan tempat biasa yang telah melekat dengan alam bawah sadar mereka bahwa tempat itu merupakan miniatur “padang arafah”, tempat orang-orang satu kampung dari berbagai latar belakang bertemu dan berkumpul.

Kebaruan dan Keharuan

Penentuan pembagian tempat penyelenggaraan salat Idul Fitri di setiap kampung merupakan konsensus atau kesepakatan baru dalam masyarakat. Itulah kelebihan manusia atas spesien lain yang menempati Bumi ini. Dalam perspektif antropologis, manusia mudah melakukan koordinasi dalam waktu cepat berskala luas, termasuk dalam penentuan lokasi salat Idul Fitri. Fatwa MUI dan ajakan organisasi keagamaan dengan cepat ditafsirkan dan diterjemahkan ke dalam konsensus baru oleh tokoh agama dan masyarakat. Kebaruan yang benar-benar baru telah lahir. Sulit bagi siapa pun untuk memprediksi bahwa pada satu saat tempat dan jalan kecil di sebuah kampung bisa menjadi tempat pelaksanaan salat Idul Fitri secara berjamaah.

Tradisi lama dan sumber sejarah keislaman begitu menekankan pentingnya salat Idul Fitri diselenggarakan di mesjid atau di lapangan terbuka, bukan di jalan umum. Bagi kalangan ortodoks, kebaruan yang muncul yang berbeda secara diametral dengan tradisi lama sering dipandang amalan bid’ah. Tetapi konsensus bersama demi kebaikan (maslahah mursalah) menjadi sumber rujukan dalam penentuan pembagian tempat salat Idul Fitri adalah satu keniscayaan, harus dipraktikkan.

Ras manusia tidak hanya dapat melakukan koordinasi antar sesama, mereka juga merupakan spesies yang dapat mengkoordinir dirinya sendiri. Dunia binatang tidak pernah mengenal ini, andai saja kumpulan ayam potong bisa berkoordinasi satu sama lain, sudah sejak puluhan tahun lalu umat manusia tidak mencicipi ayam goreng. Tidak sulit bagi manusia untuk menerima kesepakatan baru hasil dari koordinasi selama memiliki kejelasan meskipun terletak pada masalah-masalah di wilayah sensitif seperti keagamaan.

Suasana Idul Fitri tahun ini berlangsung pada masa transisi dari kehidupan normal atau biasa ke kehidupan yang diasumsikan normal baru (new normal) merupakan bentuk pembelajaran kepada umat manusia betapa penting menghadapi permasalahan yang dipandang baru, tetapi dengan tetap mengedepankan nalar dan akal sehat. Lambat laun, kehidupan normal baru juga akan menjadi hal normal dan dipandang biasa, manusia merupakan mahluk yang mudah dan cepat beradaptasi.

Halalbihalal Virtual

Bukan hanya terhadap pelaksanaan salat Idul Fitri, tradisi halalbihalal sebagai warisan para leluhur kita juga dipaksa harus dilakukan dengan mengedepankan pysical distancing, penjarakan fisik. Beruntung sekali, saat ini kemajuan teknologi dan informasi telah menawarkan berbagai platform komunikasi virtual. Di media sosial, potret-potret yang memperlihatkan komunikasi virtual setiap keluarga inti diunggah oleh para netizen. Satu bentuk pengabaran kepada orang lain: meskipun tetap mematuhi penjarakan fisik, tetapi hubungan baik tetap bisa dijaga meskipun melalui konfrensi virtual.

Lebaran merupakan momentum pertemuan keluarga inti yang membentuk keluarga besar, biasanya tiga sampai tujuh keluarga berkumpul di kediaman keluarga ini, mengalami pergeseran signifikan di tahun ini. Larangan mudik di daerah yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar telah menahan deurbanisasi atau migrasi manusia dari kota ke kampung halaman. Awalnya memang tidak bisa disangkal, kondisi ini benar-benar membuat mental siapa pun gegar dan kaget, momentum lebaran yang belum tentu akan dijumpai lagi terlewatkan begitu saja. Kalimat “apa boleh buat” sepertinya dijadikan prasyarat untuk menenangkan diri. Halalbihalal tahun ini cukup dilakukan secara virtual saja, sebuah cara baru yang belum pernah terjadi dalam skala besar.

Di lembaga yang lebih besar dari keluarga pun, halalbihalal dilakukan secara virtual. Lembaga pemerintah biasanya menyelenggarakan acara halalbihalal di hari pertama masuk kerja di halaman setiap kantor, sekarang diurungkan. Halalbihalal dilakukan secara personal saja, dari individu kepada individu lainnya. Dari presiden hingga wali kota dan bupati, halalbihalal dilakukan secara virtual, hampir tidak ada pelaksanaan open house di rumah-rumah dinas dan rumah para pejabat.

Kehidupan dengan Norma Baru

Wacana “kehidupan normal baru” dengan Herd Immunity semakin ramai dibicarakan setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan pelonggaran wilayah-wilayah yang berstatus zona merah. Yang terjadi di masyarakat, selama pandemi Covid-19, justru kehidupan dengan sejumlah norma baru.

Cara bersalam-salaman dilakukan hanya dengan menyentuhkan ujung jari atau kedua telapak tangan diletakkan di bagian depan dada. Bertegur sapa antar manusia dilakukan dengan anggukan kepala. Memasuki rumah-rumah ibadah sampai menjalankan ritual keagamaan pun dilakukan dengan memakai masker.

Tren berbelanja secara daring mengalami lonjakan. Menjelang lebaran, terjadi pergeseran berbelanja kebutuhan dari papan ke pangan. Membeli kebutuhan makanan lebih diprioritaskan daripada membeli baju lebaran. Pandemi Covid-19 telah memaksa manusia lebih banyak mengonsumsi makanan-makanan sehat yang diyakini dapat meningkatkan kekebalan tubuh agar tidak mudah tertular virus korona.

Tentu saja kehidupan normal baru yang sedang ramai dibicarakan itu sama sekali tidak betul-betul menampakkan hal-hal paling baru. Hal ini hanya menyentuh pada ranah-ranah perasaan. Di sisi lain, kita memang sedang hidup di era ketika kata dan terminologi sudah tidak melulu diterjemahkan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang bahasa. Lantas banyak yang mempersepsikan antara kehidupan normal baru dengan herd immunity memiliki arti yang sepadan.

Kehadiran bencana dan wabah telah menyertai panggung sejarah dan perjalanan kehidupan manusia sebagai bentuk pembelajaran bagi manusia. Di dalam konstelasi kehidupan ini beragam tantangan datang untuk menguji sejauh mana spesies manusia dapat bertahan dan mempertahankan dirinya. Kehidupan normal baru akan tercapai jika peradaban yang telah dibangun oleh manusia benar-benar porak poranda.

Walakin, melalui penemuan dan cara baru pengobatan di bidang kedokteran yang semakin cepat, saya pikir, untuk beberapa abad ke depan, manusia akan tetap bisa mempertahankan peradaban yang telah dibangun sejak abad ke 16 sampai sekarang.

Hal paling penting yang harus dicapai oleh manusia adalah bagaimana mereka mengembalikan kembali mental dan spiritualnya ke setelan pabrik. Dalam terminologi lebaran sering kita sebut: kembali ke fitrah. Back to factory setting.

Membangun Narasi Positif dan Tindakan Produktif

Rasa peduli dan empati ditumpahkan oleh teman-teman saya melalui grup media obrolan kepada masyarakat yang masih belum menaati pembatasan sosial berskala besar menjelang lebaran. Walakin, wabah yang terjadi secara masif sering tidak dapat menghindari persoalan dilematis, apalagi fitur kehidupan yang terdampak bukan hanya masalah kesehatan melainkan telah menggerus berbagai bidang lainnya.

Memang sangat dilema seperti yang pernah saya tulis dalam beberapa opini yang telah dimuat oleh media cetak dan daring beberapa waktu lalu. Di satu sisi, pemerintah telah menerbitkan aturan selama pandemi dari mulai yang ketat sampai longgar selonggar-longgarnya. Tetapi di sisi lain, pembatasan sosial dan protokol kesehatan maksimum jika ditaati oleh kelompok menengah bawah yang bergerak di sektor informal justru akan berdampak terhadap perekonomian mereka.


Beragam cara dilakukan dalam membantu penanganan Covid-19 di Kota Sukabumi. Semangat ini mengemuka dalam kegiatan yang digagas Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Sukabumi dan bank bjb berbagi dengan tema ' Berbunga takwa berbuah berkah' di Aula Bank bjb Sukabumi, Rabu (20/5).

Rasa empati memang sangat baik diberikan kepada mereka yang sampai sekarang, menjelang lebaran, masih membuat kerumunan di pusat perbelanjaan. Mereka seakan tidak memerdulikan virus korona dapat menular kepada siapa dan kapan saja.

Sebenarnya kondisi tersebut hampir merata terjadi di setiap kota, kabupaten, bahkan di dunia ini. Pandemi Covid-19 terus mengalami tren kenaikan, salah satunya, disebabkan oleh kesenjangan antara kebijakan pemerintah dengan kondisi nyata yang dihadapi oleh nasyarakat menengah bawah.

Harus diakui, masyarakat menengah bawah merupakan kelompok yang sering menerima dampak terburuk di setiap wabah dan bencana yang pernah terjadi. Abad pertengahan di Eropa, saat benua biru ini dilanda maut hitam pada 1348, puluhan juta orang yang meninggal berasal dari kelompok menengah bawah.

Wabah dan bencana memang tidak pilih kasih, siapa pun dari latar belakang mana pun dapat diterjang wabah. Hanya saja, risiko terbesar biasanya dialami oleh kelompok masyarakat yang kurang waspada, tidak perduli, masa bodoh, dan tidak tahu. Entah dengan alasan kekurangan akses informasi atau memang beginilah hidup secara natural: hanya mereka yang kuat akan tetap bertahan, kuat materi, finansial, sosial, dan mental.

Peran Lembaga Keagamaan

Lintas lembaga telah berperan dalam berbagai upaya menghentikan penularan virus korona, termasuk lembaga keagamaan. Majelis Ulama Indonesia telah menerbitkan fatwa tata cara pelaksaan Sholat Idul Fitri tahun ini. MUI mengijinkan pelaksanaan Sholat Id di rumah di wilayah-wilayah episentrum penyebaran wabah atau di daerah zona merah Covid-19. Hal ini dengan pertimbangan menghindari kejelekan harus diutamakan daripada mengambil manfaat.

Dua organisasi keagamaan besar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah pun berpandangan demikian, pada lebaran tahun ini, dalam hal tata cara Sholat Id dilaksanakan di rumah bukan berarti mengada-ada hal baru atau menghilangkan tradisi penting lebaran. Umat dituntut memahami terhadap pentingnya penyelarasan tata cara ritual dengan kondisi aktual agar ibadah benar-benar dilandasi oleh sikap rasional dan personal (ikhlas).

Harus diakui, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga keagamaan selalu tidak mudah ditafsirkan oleh umat saat ini, mengingat kebijakan ini menyoal wilayah paling sensitif dalam kehidupan. Umat pada awalnya banyak yang berkomentar, kenapa tempat ibadah ditutup sementara pasar dan pusat perekonomian tetap dibuka? Dengan berpikir pendek tentu mereka memandang kebijakan ini sungguh konyol. Sebetulnya langkah yang telah diambil oleh lembaga keagamaan telah tepat, jangan sampai rumah ibadah dijadikan lahan fitnah sebagai tempat penyebaran virus.

Jika kita merujuk pada sejarah wabah-wabah yang pernah terjadi, lembaga keagamaan merang memiliki peran sentral dalam dua hal: bisa menghindarkan umat dari malapetaka yang lebih besar atau menjerumuskan umat pada kondisi terburuk. Wabah Antonin pada abad ke-4 telah memakan banyak korban disebabkan oleh narasi-narasi keagamaan yang dangkal, misalnya, tokoh-tokoh agama menyebutkan bahwa wabah pada masa itu merupakan upaya penyucian manusia dari dosa dan kesalahan, umat diharuskan berkerumun, berkumpul di rumah ibadah sambil melakukan pertobatan. Justru dengan cara seperti ini penularan wabah menjadi lebih cepat.

Dari salah satu contoh sejarah wabah di atas, lembaga keagamaan dan tokoh-tokoh yang berada di dalamnya dituntut untuk mengeluarkan narasi positif yang dapat dicerna secara utuh oleh umat, bukan malah membuka peluang asumsi-asumsi dan deviasi opini. Apalagi, saat ini, pihak-pihak yang terbiasa memancing di air keruh masih tetap mempertahankan tabiat jeleknya, melakukan destruksi terhadap informasi utuh menjadi setengah-setengah. Mereka bahkan tidak pernah merasa takut salah memproduksi informasi palsu yang disebar melalui media daring. Di dalam tubuh umat yang masih sulit membedakan informasi sahih dan bohong, sangat sulit narasi positif bisa menyebar secara utuh, apalagi sampai ditaati.

Pelajaran penting dari sejarah pergolakan keagamaan yang pernah mewarnai panggung sejarah, khususnya di dalam tubuh umat Islam, adalah bagaimana peran penting tokoh agama dalam membangun karakter umat agar mereka tidak sekadar dijadikan komoditas kepentingan oleh pihak-pihak yang selalu ingin mendulang keuntungan dengan memeras potensi umat. Saya sangat haqqul yakin, para Nabi diutus untuk membangun umat atau komunitas yang utuh dan berkembang secara rasional dan terukur.

Pada dasarnya, agama dapat memainkan satu peranan penting dan utama dalam pemulihan krisis saat persoalan agama tidak terhenti pada ranah kepercayaan saja, tetapi telah dapat bergerak ke arah apa yang seharusnya dilakukan atau diperbuat. Hal ini sejalan dengan salah satu ayat, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali jika kaum itu mengubah dengan perbuatannya sendiri.

Fatwa dan imbauan dari lembaga keagamaan dalam pemulihan pandemi Covid-19 bukan berarti ingin menjauhkan umat dari keyakinan dan ritualnya, melainkan hendak membawa umat kepada pencapaian visi spiritualitas sebagai detak jantung kehidupan keberagamaan umat. Seperti diungkapkan oleh Yudi Latif, formalisme dan pemujaan dalam bentuk lahiriah memang diperlukan, tetapi kesanggupan dalam menggali etika spiritualitas lebih penting ditempuh agar peran agama tidak mandul, kering, dan tandus.

Di sinilah peran penting lembaga keagamaan dalam membangun narasi positif yang paripurna. Peran kita tidak hanya sekadar melawan dan memerangi keburukan, di samping itu kita memiliki peran membangun hal-hal positif sebagai bentuk perlawanan lain dan halus terhadap keburukan itu.

Dengan narasi-narasi positif dan tindakan produktif, wabah akan lebih cepat selesai. Kita juga harus yakin, sesaat setelah lahirnya wabah, bencana, dan keburukan selalu diikuti dengan kelahiran cahaya baru, zaman yang lebih bernas. Islam tidak mungkin mengalami puncak keemasan di abad pertengahan jika tidak diawali oleh masa formatif yang berdarah-darah akibat perpecahan dalam tubuh umat secara politis. Eropa sangat mustahil mencapai era renaissance atau abad pencerahan jika sebelumnya tidak terjadi abad yang diliputi kabut hitam pada era kegelapan. Inna ma’al ‘usri yusran, setelah kesulitan akan disertai masa yang diliputi kemudahan.

Mudik di tengah pandemi

Para ahli telah menduga, puncak pandemi di negara ini akan terjadi pada akhir Mei-Juni 2020. Selama dua hari ini, penambahan kasus positif Covid-19 memperlihatkan angka lebih besar daripada penambahan sebelumnya.

Kebijakan larangan mudik pralebaran dan sejumlah pengetatan moda transportasi terlihat samar-samar. Saat Kementerian Perhubungan melonggarkan aturan operasional moda transportasi terjadi eskalasi jumlah penumpang pesawat di beberapa bandara.

Kerumunan sudah tentu sulit dihindari, apalagi mengindahkan aturan penjarakan sosial. Dengan dalih apapun, peningkatan jumlah penumpang pesawat di bandara-bandara tersebut akan berlangsung sampai H-1 lebaran.

Mudik merupakan tradisi tahunan, entah itu diberi judul “pulang kampung”, “balik ka lembur”, “silaturahmi dengan handai taulan” telah menjadi bagian dari pranata budaya di negara ini.

Di negara-negara dengan mayoritas penganut Islam pun tidak ditemui tradisi mudik seperti halnya di Indonesia. Atau, meskipun di negara lain ada kegiatan seperti mudik, namun tidak menjadi pembahasan serius, dikaji oleh para ahli, dan melibatkan lintas lembaga untuk menanganinya.

Di negara ini, seminggu sebelum dan setelah lebaran, semua lembaga terlibat langsung menangani pelaksanaan mudik. Pers juga tidak lepas memberitakan kondisi teraktual dak terkini selama masa mudik.

Suasana lebaran memang selalu berbeda

Faktanya, suasana lebaran dari tahun ke tahun memang selalu berbeda. Lebaran di kampung dengan di kota saja benar-benar memperlihatkan suasana yang cukup berbeda. Ismail Marzuki menangkap sinyal perbedaan ini, kemudian diciptakanlah lagu Selamat Hari Lebaran. Lagu dengan nuansa gypsi ini menyederhanakan sikap-sikap orang kota dan kampung di hari lebaran.


Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi didampingi oleh Sekda Kota Sukabumi Dida Sembada memantau kawasan Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi, Kamis (21/5). Dalam kesempatan itu wali kota menertibkan sejumlah pedagang yang berjualan di badan jalan. Kedatangan wali kota ini juga untuk memastikan penerapan physical distancing sesuai evaluasi Gubernur Jabar terkait pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Suasana lebaran di kampung tahun 80-an dengan era milenial sekarang saja sangat jauh berbeda. Orang-orang kampung tahun 80-an, seminggu sebelum lebaran telah berbenah dalam menghadapinya, setiap rumah akan mengeluarkan wangi kue, masyarakat membuat berbagai macam penganan kampung, atap-atap rumah dijadikan tempat menjemur aneka kue. Tradisi ini terus bertahan sampai akhir tahun 90-an.

Suasana di atas sudah jarang ditemui di era milenium kedua. Berbagai macam kue, nama, bentuk, jenis, dan harganya bisa dipesan dan dibeli di swalayan-swalayan. Kue lebaran tidak perlu diproduksi mandiri, kita tinggal memesan atau membeli langsung ke toko-toko kue. Toh, harganya terjangkau karena kue-kue tersebut ditawarkan dengan varian harga, kemasan juga dapat disesuaikan dengan selera kita.

Era milenial ini menawarkan kepelbagain dan keragaman. Pertimbangan ekonomi menjadi alasan orang-orang lebih memilih memesan dan membeli kue telah jadi, biaya untuk membuat kue secara mandiri ditambah waktu dan tenaga pengerjaannya setelah dihitung ternyata lebih mahal dibandingkan dengan membeli kue yang telah jadi. Orang-orang kampung pun, di era ini, dapat menikmati beragam kue modern, mereka membacanya “cake”.

Apalagi di tengah pandemi, membeli barang-barang secara daring diyakini lebih aman sebab antara pembeli dengan penjual, pembeli dengan sesama pembeli dapat menghindari kontak atau interaksi fisik secara langsung. Ongkos kirim dari kota besar seperti Jakarta saja terbilang murah.

Layanan belanja daring menawarkan paket-paket penjualan barang dengan harga murah. Terlebih di waktu sebelum lebaran, toko-toko daring bersaing menggoda siapapun dalam bentuk potongan harga dan tawaran-tawaran lainnya.

Suasana lebaran di era milenial ini telah berpindah ke ruang-ruang daring. Arus lalu-lintas pesanan melalui aplikasi belanja daring jumlahnya akan lebih besar dari arus lalu-lintas pesawat kargo pembawa muatan barang. Meskipun pada akhirnya, barang-barang yang dipesan ini akan didistribusikan kepada konsumen melalui angkutan barang.

Migrasi manusia dalam tradisi mudik, dari kota ke desa sangat besar dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu umat manusia. Nenek moyang manusia, sebelum memutuskan untuk menetap dan membuat pemukiman, merupakan komunitas nomaden, kelompok manusia yang selalu bermigrasi dan berpindah tempat dari satu lahan ke lahan lainnya di era revolusi kognitif, 100-60 juta tahun lalu.

Setelah memasuki era revolusi pertanian, manusia telah menempati lahan-lahan tertentu dan membentuk pemukiman namun kebiasaan bermigrasi dari satu tempat kemudian kembali lagi ke pemukiman atau keluarga inti tetap dilakukan oleh nenek moyang kita. Ciri utama homo sapiens yaitu kebiasaan mereka berkelana, nomad, homo-traveller, diwariskan secara turun-temurun sampai kepada generasi sekarang.

Tidak hanya dalam perspektif sosial, dalam perspektif profetik pun demikian. Nabi Ibrahim melakukan pengembaraan dan bermigrasi dari Ur ke Kan’an, Nabi Musa melakukan eksodus besar-besaran dari Mesir ke Tanah Perjanjian, Nabi Isa merupakan seorang nabi yang gemar melakukan pengembaraan dari satu desa ke desa. Nabi Muhammad melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Entah dengan alasan apa, kata hijrah atau berpindah tempat mengalami pergeseran makna menjadi perubahan sikap akhir-akhir ini.

Gauthama telah dipromosikan oleh sang ayah sebagai pewaris tunggal kerajaan Kapilawastu. Setelah dewasa, ia memutuskan untuk keluar dari pingitannya, sikap empati menjalar di dalam dirinya saat melihat rakyat yang berada di seberang istana hidup dalam kepayahan. Gauthama muda memutuskan melakukan pengembaran, di kemudian hari dikenal dengan jalan spiritual yang membawa dirinya ke dalam sebuah efifani, pergumulan dengan Dia yang adikodrati.

Mudik dalam perspektif sosiologis adalah rekonsiliasi diri manusia yang telah menyerap nilai-nilai urban dengan kampung halaman yang menyimpan imaji masa lalu. Itulah pangkal utama ada atau tidak ada larangan mudik, deurbanisasi menjelang lebaran sangat sulit dihindari.

Kita dapat saja beranggapan kemajuan teknologi tetap dapat mempertemukan setiap orang melalui gawai secara daring. Namun, penggunaan lebih intens gawai dan aplikasi obrolan selama empat bulan terakhir ini telah membuat kita merasa jenuh.

Pertemuan langsung, membangun hubungan interpersonal dengan sanak keluarga di saat lebaran lebih dipandang berkualitas daripada melakukan obrolan melalui gawai. Work from home dan proses belajar dari rumah yang telah dilalui dua bulan terakhir ini telah membuat kita jenuh.

Survey daring beberapa lembaga menyebutkan 70% responden mulai merasa jenuh dengan proses bekerja dari rumah. Artinya, berbagai platform yang digunakan ternyata sulit mengikis habis sifat dasar manusia sebagai homo socius, mahluk dengan naluri kebersamaan.

Tanpa petasan dan bedil lodong

Petasan, mercon, dan bedil lodong selama dua dekade ini telah dilarang dinyalakan di malam takbiran oleh pihak berwenang. Entah demi alasan keselamatan, mengganggu ketertiban, atau dengan alasan keagamaan sebagai perbuatan mubazir dan sia-sia.

Takbir keliling dengan arak- arakan menabuh bedug juga telah dilarang di beberapa kota. Kemeriahan malam takbiran, orang-orang tumpah ruah ke jalanan tidak akan semeriah seperti tahun lalu selama pandemi Covid-19.

Di kampung halaman saya saja, wilayah rural perdesaan, suasana puasa tahun ini sangat terasa bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Menjelang lebaran biasanya sering terdengar suara dar-der-dor petasan memecah keheningan, sekarang suasananya benar-benar hening. Anak-anak yang biasa menyalakan bedil lodong menjelang imsak dan buka puasa sama sekali tidak melakukan prosesi menakjubkan ini.

Tahun sebelumnya, meskipun ada larangan menyalakan petasan dan bedil lodong, sama sekali tidak menjadi halangan bagi anak-anak untuk mengingatkan para penduduk bahwa saat suara menggelegar dari bedil lodong sebagai pertanda menjelang berbuka puasa atau segera mengakhiri makan sahur.

Penjarakan sosial di tengah pandemi akan terus berlangsung sampai malam takbiran nanti. Orang-orang akan bercengkerama menyambangi tetangga dengan tetap memakai masker sambil menjaga jarak. Tidak akan sedekat dan seakrab seperti tahun lalu.

Kumandang takbir tetap akan menggema di seantero, memenuhi ruang-ruang keharuan, menyelinap pada sela ranting dan dedaunan. Dalam suasana ini lah setiap dari kita dituntut untuk melangkah jauh ke dalam diri, merenungi kerapuhan norma-norma hanya karena virus korona.

Kepongahan kita selama ini sebagai sapiens yang sering merenggut tugas dan peran Tuhan sama sekali menunjukkan kekerdilan kita di dalam kumandang kemahabesaran-Nya.

Kita sedang ringkih dan tertarih-tatih setelah pada dekade-dekade sebelumnya kita merasa sedang mengarah kepada pencapaian tertinggi dari lini masa evolusi dari mahluk satu sel ke wujud tanpa bentuk: homo deus, seperti yang disebutkan oleh Harari dalam buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.

Posting Komentar

0 Komentar