Top Ads

Belanja Daring, Manfaatkan Aplikasi "Pasar Tani"


Pandemi Covid-19 tidak hanya memiliki dampak terhadap kesehatan, juga berdampak secara signifikan pada perekonomian. Hal yang sedang trending di saat pandemi yaitu peningkatan berbelanja kebutuhan pokok secara daring. Kondisi ini sangat baik dalam membantu mengurangi kebuntuan distribusi barang. Meskipun demikian, kebaikan ini juga harus dirasakan oleh masyarakat menengah bawah. Ketersediaan cara belanja daring juga harus mampu menjembatani produsen pangan dengan konsumen secara lebih luas.




Dampak pandemi Covid-19 terhadap roda perekonomian di antaranya memunculkan ketidakpastian distribusi barang. Kelebihan suplai produksi pangan terjadi dialami oleh produsen pangan. Stok barang menumpuk menyebabkan harga nilai jual di tingkat produsen pangan –terutama para petani– jatuh.

Distribusi barang yang tersendat dan pasokan hasil bumi yang mengecil di pasaran, bagi konsumen menjadi beban akibat kenaikan harga. Di masa normal hal ini sangat mudah dipecahkan, karena distribusi berjalan lancar dan baik. Di masa pandemi, distribusi barang dari satu tempat ke tempat lain dituntut untuk menaati pemberlakukan protokol pencegahan penyebaran virus korona.

Strategi paling rasional untuk memecah kebuntuan distribusi selama pandemi Covid-19 yaitu dengan menerapkan belanja secara daring. Pemerintah tentu saja harus memfasilitasi pertumbuhan aplikasi e-dagang dan e-warung atau aplikasi sejenisnya yang dapat membantu kelancaran distribusi. Penyaluran produk pangan dari petani ke konsumen sangat diperlukan.

Pasar Tani Kota Sukabumi

Terobosan pemasaran hasil pertanian secara daring telah digagas oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi melalui aplikasi Pasta Melon atau Pasar Tani Melayani Online. Pembuatan aplikasi ini seperti diungkapkan oleh Andri Setiawan merupakan upaya untuk mencegah putusnya mata rantai pasokan dari produsen pangan kepada konsumen. Memang seharusnya, selama pandemi Covid-19, masalah rantai pasokan harus dapat dituntaskan.

Manfaat kehadiran aplikasi Pasar Tani tersebut salah satunya untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat saat membutuhkan bahan pangan. Dengan menggunakan aplikasi, masyarakat tetap tinggal di rumah kemudian melakukan pemesanan pembelian barang lalu nanti akan diantar. Konsumen-konsumen yang telah merasakan manfaat menggunakan aplikasi ini rata-rata memberikan testimoni merasa puas karena kebutuhan perbelanjaannya dapat terpenuhi.

Keberadaan Pasar Tani ini dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan harga jual produk petani, tetapi harganya juga masih terjangkau oleh konsumen. Kerjasama seluruh unsur: pemerintah; petani; penyedia aplikasi; dan masyarakat menjadi kunci utama kelancaran pemasaran secara daring di Kota Sukabumi.

Pasar Tani juga menyediakan produk barang yang lebih bervariasi. Penyedia pasokan belanja daring ini menyediakan sembako, sayuran, daging, susu, bumbu-bumbu, ikan laut, telur, buah-buahan hingga makanan siap saji (Frozen food). Cara pemesaran barang bisa dilakukan oleh masyarakat aplikasi Whatsapp Grup dengan mengklik http://bit.ly/jointpasta. Konsumen akan diarahkan pada berbagai macam pilihan pangan dan harganya yang terjangkau. Seluruh pangan yang ada dalam aplikasi tersebut semuanya murni dari petani langsung dan harganya mampu bersaing dengan harga yang ada dipasaran.

Perkuat pendampingan para petani

Program yang digagas oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi tersebut selain harus diapresiasi juga harus terus didukung dengan kebijakan-kebijakan yang memihak para petani. Program pendampingan yang telah dilakukan oleh para volunteer dinas pertanian kepada petani harus dikuatkan lagi untuk meningkatkan kesejahteraan para petani.

Keberadaan pasar tradisional merupakan hal krusial dan dibutuhkan oleh masyarakat. Walakin di masa krisis akibat pandemi ini tren belanja daring justru semakin meningkat sejalan dengan perkembangan teknologi, informasi, dan penguasaan akses digital. Jangkauan belanja daring juga harus dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat menengah bawah. Strategi terbaik untuk menjembatani masyarakat yang belum dapat mengakses informasi melalui internet harus dipikirkan.

Memperkuat pendampingan kepada para petani disertai edukasi e-marketing memang seperti pikiran mengawang-awang, tetapi perlu dilakukan. Produk pangan tidak hanya dipasarkan melalui aplikasi dari desa ke desa atau dari kota ke kabupaten saja. Belanja daring telah berkembang meluas. Lonjakan pesanan kebutuhan pangan melalui Lazada hingga sepuluh kali lipat di masa pandemi ini pertanda tren belanja daring kebutuhan pokok di masa depan pascapandemi akan tetap bertahan.

Layanan-layanan belanja daring seperti Lazada, Tokopedia, Shopee, BukaLapak, dan sejenisnya di masa yang akan datang tentu saja akan membuka peluang kolaborasi besar-besaran dengan produsen pangan. Kolaborasi itu akan dilakukan agar pasokan barang kepada konsumen benar-benar tersedia secara terus-menerus. Kelompok masyarakat yang mencari penghasilan di sektor informal seperti petani, pedagang, dan UMKM harus diberikan bimbingan bagaimana cara mereka membangun kolaborasi dengan korporasi besr yang telah dikenal secara luas. Mau tidak mau, di masa depan pascapandemi, layanan-layanan belanja daring akan melakukan transformasi digital untuk membantu para pedagang dan kelompok informal.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Mau Join tidak ditolak, jawabannya : sudah Full !
    Koq dibatasi ?

    BalasHapus