Menggali Budaya Kasukabumian dalam Membangun Kota Berperadaban (Bag I)

Bentuk kolaborasi dalam pembangunan Kota Sukabumi, salah satunya, ditempuh melalui optimalisasi peran seluruh unsur yang ada di Kota Sukabumi. Wali Kota bersama Wakil Wali Kota Sukabumi dalam beberapa kegiatan selalu mengimbau, bahwa pembangunan di Kota Sukabumi harus benar-benar ditempuh dengan cara melakukan kolaborasi dan memerlukan keterlibatan seluruh pihak.

Satu tahun lalu, dalam seminar kebudayaan yang diselenggarakan oleh Disporapar Kota Sukabumi, H. Achmad Fahmi menyebutkan Kota Sukabumi harus dibawa ke arah kota berperadaban, sebuah kota yang di dalamnya melahirkan peradaban (keadaban: lawan kata dari kebiadaban) dan dilandasi oleh etika.

Tentu saja, hal yang disampaikan oleh wali kota tersebut selain merupakan sebuah keharusan juga merupakan harapan yang harus diimbangi oleh upaya-upaya untuk mewujudkannya. Dalam mewujudkan kota berperadaban harus diawali oleh upaya penggalian unsur-unsur kebudayaan yang ada di Kota Sukabumi. Bagaiamapun juga, antara peradaban dengan kebudayaan sangat sulit untuk dipisahkan, mengingat peradaban sebuah kota sudah pasti diawali oleh eskalasi kebudayaannya.

Penggalian budaya kasukabumian

Budaya kasukabumian merupakan segala bentuk dari unsur-unsur kebudayaan yang berkembang di Sukabumi. Meskipun secara umum budaya Sukabumi merupakan budaya Sunda, namun tidak menutup kemungkinan di setiap daerah yang ada di Tatar Sunda, bentuk-bentuk budaya yang memiliki kekhasan merupakan ciri daerah tersebut selalu muncul.

Budaya kasukabumian memang tidak lahir begitu saja, untuk memunculkannya diperlukan penggalian dan pencarian tentang kemelekatan budaya tersebut dengan kehidupan orang Sukabumi. Beberapa tahun ini beberapa komunitas telah melakukan upaya ke arah sana. Sebagai contoh, pencak silat kasukabumian mulai dikembangkan oleh beberapa paguron silat.

Selain itu, meskipun pencak silat kasukabumian baru dikembangkan oleh beberapa paguron silat dari Kabupaten Sukabumi, beberapa paguron silat di Kota Sukabumi juga telah mengembangkan gerakan wiragamasa, salah satu gerakan yang dikembangkan di Jawa Barat. Setiap sekolah telah menggunakan gerakan ini sejak tahun 2016. Gerakan silat seperti ini jika dikembangkan dan diimprovisasi dapat saja menjadi cikal bakal lahirnya gerakan kasukabumian dalam pencak silat.

Selain dalam seni bela diri, komunitas-komunitas milenial di Kota Sukabumi juga telah memulai aktivitas mereka dalam memadukan tradisi dengan penemuan-penemuan kontemporer. Bagi generasi ini, budaya dan tradisi Sunda dengan basis kasukabumian harus diterjemah ulang agar dapat dipahami oleh generasi era revolusi industri 4.0. Di Kota Sukabumi juga telah dibangun Rumah Budaya oleh Kementerian yang membidangi ekonomi kreatif, terletak di Kelurahan Sukakarya. Rumah Budaya Sukuraga dapat dimanfaatkan oleh aktivis seniman dan budayawan dalam pengembangan kreativitas seni dan budaya.

Beberapa tahun lalu, gedung seni juga telah dibangun oleh Pemprov Jawa Barat. Kehadiran gedung seni ini diharapkan dapat menjadi wadah pelatihan dan pagelaran kesenian oleh para pelaku seni dalam ruang pentas dan dapat dinikmati oleh warga kota.

Membumikan unsur-unsur kebudayaan di Kota Sukabumi

Hal penting dalam upaya penggalian kebudayaan sebuah wilayah yaitu adanya proses elaborasi unsur-unsur kebudayaan yang telah berkembang dan membumi di wilayah tersebut. Dengan mengenal unsur-unsur kebudayaan itulah kekhasan budaya Sukabumi dalam kerangka kasukabumian dapat terlihat dan diakui keberadaannya, paling tidak oleh warga Kota Sukabumi sendiri.

Seluruh unsur kebudayaan memiliki sifat cair dan dinamis. Ketujuh unsur tersebut tidak dapat lepas dari dua sifat tadi, saling memengaruhi, dipengaruhi, akulturasi, asimilasi, dan dapat saja membentuk budaya baru yang mudah diterima atau sulit diterima oleh masyarakat.

Bahasa sebagai bagian dari unsur kebudayaan memegang peran penting dalam menerjemahkan dan membahasakan kembali unsur-unsur kebudayaan lainnya agar dapat dipahami oleh masyarakat. Hampir setiap unsur kebudayaan tidak dapat lepas dari penggunaan bahasa.

Bahasa Sunda sebagai unsur kebudayaan di Tatar Sunda mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, baik dalam penggunaan atau hal-hal intrinsik dalam bahasa tersebut. Ada semacam kekhawatiran penggunaan Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu tergerus oleh penggunaan bahasa-bahasa lain.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pertama, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud telah meneliti beberapa kosakata mengalami kepunahan dan jarang digunakan lagi oleh penutur di daerah. Berdasarkan kajian terhadap 90 bahasa daerah yang berpotensi vitalitasnya rendah, terdapat 19 bahasa daerah berstatus rentan, 3 bahasa daerah mengalami kemunduran, dan 25 bahasa daerah terancam punah. Sebanyak 6 bahasa daerah berstatus kritis dan 11 bahasa daerah sudah punah.

Kedua, berdasarkan hasil penelitian Litbang Kompas di atas, kosakata baru sebagai bahasa serapan mengalami penambahan jumlah. Kini, di tengah dekapan teknologi digital, proses penyerapan berjalan sangat cepat.

Sejak sepuluh tahun terakhir, kosakata serapan dari bahasa asing dan istilah bidang ilmu terus bertambah. Jumlahnya mencapai ribuan kata. Internet yang berkembang pesat menjadi pengaruh utama. Rata-rata 43.000 kosakata bahasa asing dan istilah bidang ilmu dipantau oleh BPDPB Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ada hal menarik, dalam penggunaan bahasa daerah, khusus untuk Kota Sukabumi, telah dipraktikkan penggunaan bahasa sandi, dalam perkembangannya dikenal dengan Bahasa Widal (Tipar). Penyematan nama bahasa sandi menjadi Bahasa Widal ini karena pemakaian bahasa sandi ini, mayoritas dilakukan oleh para penutur dari Tipar dan dikenal luas oleh orang-orang Tipar.

Proses pembahasaan selain memerlukan kosakata sebagai bagian penting dari bahasa juga memerlukan perangkat penyampaianan bahasa yaitu aksara. Aksara Sunda sudah mulai dipopularkan kembali baik melalui jalur resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga dikembangkan oleh beberapa komunitas kasundaan.

Ada beberapa catatan dalam kegiatan menyosialisasikan dan menggunakan aksara Sunda di masyarakat selama sepuluh tahun terakhir sejak aksara Sunda Kaganga diperkenalkan kepada masyarakat melalui jalur pendidikan.

Pertama, penerapan aksara Sunda kepada masyarakat masih belum menemukan titik temu tentang penggunaan strategi yang harus ditempuh. Pendekatan kultural juga masih belum memperlihatkan hasil signifikan. Beberapa papan nama, pelakat, hingga spanduk dan baliho belum secara maksimal mengenalkan aksara Sunda kepada masyarakat.

Aksara Sunda baru kita temui tertulis pada buku pelajaran , kaos, beberapa spanduk, dan aplikasi aksara Sunda. Memang belum sepenuhnya memasyarakat dan aksara ini juga baru dikenal oleh orang-orang tertentu saja.

Kedua, sosialisasi dan pemakaian aksara Sunda belum dilakukan secara tuntas. Strategi yang harus dikemas dalam upaya mengenalkan aksara Sunda karena pada saat yang sama penggunaan aksara Arab Pegon juga mulai jarang dilakukan dapat dikombinasikan atau adanya saling lengkap-melengkapi pengenalan dua jenis aksara ini kepada masyarakat. Dengan melihat dua kenyataan di atas, mau tidak mau pemerintah melalui dinas, lembaga, atau kantor terkait harus dapat memfasilitasi kegiatan sosialisasi aksara Sunda sekaligus aksara Arab Pegon.

Sebagai realita tambahan, penggunaan aksara Arab Pegon sebagai salah satu kultur yang lahir dari tradisi pesantren saat ini sudah jarang digunakan disebabkan oleh selain tenaga pendidik di madrasah lebih kerasan dan nyaman menuliskan terjemahan dalil dengan menggunakan aksara latin dan berbahasa nasional, juga disebabkan oleh penggalian kesejarahan penggunaan aksara Arab Pegon berbahasa Sunda tampaknya bukan menjadi domain dan kajian para peneliti dalam ilmu sosial dan keagamaan.

Dimuat oleh Radar Sukabumi


Posting Komentar

0 Komentar