Sukabumi Sae Pisan, Ajang Angkat Produk Pangan Lokal



SUKABUMI--Acara Opening Ceremony Sukabumi Agro Expo (SAE) produksi inovasi, sinergi dan aksi nyata (Pisan) 2019 di Gedung Widaria Kencana (GWK) Jalan Lingkar Selatan, Sabtu (16/11) berlangsung semarak. Kegiatan yang berlangsung hingga Minggu (17/11) ini diisi dengan berbagai even menarik dan unik serta bisa menjadi alternatif mengisi liburan warga di akhir pekan.

Mulai dari bazar produk pangan berkualitas, gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan) dengan makan bakso ikan, gerakan minum susu, pembagian 2.500 bibit pohon gratis dan restocking 100.000 ekor benih ikan.

Selain itu dimeriahkan pula dengan Sukabumi Fish Festival dan Sukabumi Pet Show 2019 serta layanan pembuatan dokumen kependudukan satu NIK satu pohon dan perpustakaan keliling. Even ini dibuka langsung Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi dan turut dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kota Sukabumi Fitri Hayati Fahmi, Wakil Wali Kota Sukabumi Andri Setiawan Hamami, Ketua DPRD Kota Sukabumi Kamal Suherman, Dandim 0607 Kota Sukabumi Letkol Inf Danang Prasetyo Wibowo.

'' Kegiatan untuk mengangkat produk pangan lokal ini merupakan hasil kolaborasi yang diinisiasi Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Sukabumi dan didukung SKPD lainnya,'' ujar Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi. Misalnya seperti Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) dan lainnya.



Berbagai even yang dilakukan merupakan kegiatan berbasis kolaborasi dan seluruh pihak diajak bukan hanya DKP3 melainkan milik bersama. Seluruhnya bisa terus melakukan perbaikan, konsolidasi dan kolaborasi serta proses sinergitas satu SKPD dengan lainnya bersama dengan elemen masyarakat lainnya.

Wali kota menyampaikan, ketika berhubungan dengan ketahanan pangan salah satu misi wali kota dan wakil wali kota mewujudkan ekonomi daerah yang maju. Di mana bertumpu pada sektor perdagangan, ekonomi kreatif dan pariwisata melalui prinsip kemitraan dan dunia usaha, pendidikan dan daerah sekitarnya.

Dari misi ini mendapatkan turunan langsung dari Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 terkait pangan. Dalam ketentuan ini dinyatakan yang disebut ketahanan pangan harus diawali atau dimulai dari rumah tangga atau keluarga. Intinya ketahanan pangan bukan tugas DKP3 saja karena berdasarkan amanat UU harus dimulai dari keluarga berbasiskan rumah tangga.

Sehingga kenapa muncul kelompok wanita tani (KWT) menjadi tulang pungggung keberhasilan ketahanan pangan dari rumah tangga. Hal ini mendukung tujuan Millennium Development Goals (MDGs), yang mengamanatkan ketahanan pangan minimal memberikan dampak perbaikan nutrisi dan ketersediaan pangan.

Di sisi lain Sukabumi memiliki keterbatasan dari sisi lahan dalam rangka mewujudkan lumbung pangan dunia Menurut Fahmi, ada tiga hal yang menjadi kunci dalam mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan. Pertama lahan tersedia dipertahankan peruntukkanya dengan konservasi lahan, memperluas lahan baru jika memungkinkan dan terobosan melalui teknologi di era 4.0.

Oleh karenanya Sukabumi berkomitmen mempertahankan 321 hektare lahan pertanian pangan berkelanjutan dan masuk konservasi lahan. Di sisi lain mendorong produk lokal inovasi berbasiskan kreativitas lokal. '' Pemkot juga mulai kenalkan ke petani merubah mindset awalnya penjualan manual kini berbasiskan digital disiapkan ecommerce,'' imbuh Fahmi.

Hal ini dalam peningkatan nilai ekonomis dari sisi produk yang dijual. Perubahan tersebut bisa mendongkrak penghasilan petani dan generasi muda tidak malu menjadi petani dan bergerak di bidang agrowisata dan agrokreatif. Fahmi menegaskan butuh kebersamaan dan kolaborasi karena masalah pangan bukan masalah sederhana.

Terakhir, wali kota berharap kolaborasi SKPD dalam menyusun kalender of even di 2020. Targetnya pada akhir 2019 ini bisa diluncurkan kalender of even di Kota Sukabumi yang menjadikan warga atau pengunjung datang ke Sukabumi.

Posting Komentar

0 Komentar