Gubernur dan Wali Kota Sukabumi Komitmen Perkuat Bidang Pendidikan



SUKABUMI--Wisuda sarjana dan pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kota Sukabumi tahun akademik 2018-2019 di Gedung Anton Sudjarwo Setukpa Lemdikpol Sukabumi Sabtu (26/10) tampak istimewa. Sebabnya hadir Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi.

Hadir juga Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono dan Ketua STAI Sukabumi Endin Nasrudin. Pada momen itu Gubernur Jabar yang sering disapa Kang Emil menyampaikan orasi ilmiah tentang Indonesia emas 2045 dan meresmikan gedung Pascasarjana STAI Sukabumi.

'' Kehadiran gubernur menandakan kampus di Sukabumi termasuk STAI kokoh, kuat dan melesat di dunia pendidikan,'' ujar Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi. Gubernur menyampaikan banyak hal untuk dikolaborasikan dan kerjasama antara provinsi dan kota/kabupaten dalam hal sinergritas untuk negeri yang lebih baik.

Kota Sukabumi memberikan perhatian pada perkembangan dunia pendidikan. Salah satunya dengan berkolaborasi dengan semua elemen masyarakat.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam orasi ilmiahnya berharap, lulusan STAI berkiprah maksimal di Jabar dan berprestasi dalam mencapai tujuan Jabar juara lahir dan batin. '' Membeli moci di Sukabumi, pulangnya membeli kain satin. Ayo lulusan STAI berpretasi agar Jabar juara lahir batin,'' ujar dia yang membacakan pantun untuk lulusan STAI.

Emil mengatakan, cita cita Indonesia emas atau satu abad sejak merdeka, yakni 1945 merdeka 100 tahun pada 2045. Indonesia diprediksi kalau lancar menjadi negara adidaya rangking 4 atau 5 dari 200 negara di dunia. Syaratnya kalau lancar pertama yakni ekonomi harus terjaga 5 persen tidak boleh ada kemacetan dalam pergerakan ekonomi. Misalnya membangun jalan tol Bogor, Canjur, hingga Bandung akan dimaksimalkan.

Syarat kedua produktivitas, dimana, pada 26 tahun ke depan hanya Indonesia satu-satunya negara 70 persen usia kerja. Selain ilmu formal, lulusan STAI ditambahi dengan kemampuan serba digital dalam menyebarkan kebaikan via digital. '' Para kyai atau ustad pun dakwahi umat di masjid paling maksimal 5 ribu, kalau di digital jutaan orang di berbagai tempat dapat terjangkau disebut dakwah digital,'' kata Emil.

Syarat ketiga Indonesia emas yakni jangan parasea atau konflik di urusan politik. Kalau tidak bisa menjaga persatuan NKRI bisa bubar contohnya negara Yugoslavia. Terakhir gubernur menyampaikan tiga hal agar daerah berkembang. Tiga syarat ini akan mampu bersaing yakni kualitas SDM melalui pendidikan, birokrasi tidak berbelit belit dan infrastruktur yang tersedia.

Posting Komentar

0 Komentar