Struktur Kota Sukabumi



Tidak sedikit orang menanyakan beberapa hal tentang Kota Sukabumi. Sukabumi itu seperti apa? Bahkan ada yang bertanya dengan nada satir dan cenderung mengedepankan sikap sinis, kenapa Sukabumi tidak maju, sulit maju, cenderung mandeg? Saya menafsirkan pertanyaan seperti ini memang disampaikan oleh seseorang dengan cara pandang politis.

Cara pandang politis biasanya cenderung bias, orang akan mengajukan pertanyaan klise sebab pertanyaan yang dikemukakan sebenarnya merupakan pernyataan introgatif. Cara pandang seperti ini tentu saja memiliki nilai bias dan cenderung mengesampingkan obyektivitas. Obyektif berarti memandang dan menilai segala sesuatu sesuai dengan obyeknya, tidak keluar dari konteks obyek, dan menilai dari berbagai sudut pandang serta tidak dikeluarkan atas desakan perasaan: berada pada posisi menang dan kalah. Sikap politis lebih dipengaruhi oleh sensasi perasaan sebagai pemenang atau kelompok yang kalah.

Memandang Kota Sukabumi sebagai sebuah obyek harus menempatkan wilayah tersebut berada di luar diri kita dan dapat terlihat secara tiga dimensi baik komposisi tubuh juga struktur-struktur organnya. Jika seseorang menilai Kota Sukabumi dengan cara memasuki struktur tubuh daerahnya hal yang akan meledak-ledak dalam diri si penilai adalah sensasi perasaan dan telah menjadi bagian darinya. Sikap ini merupakan kelanjutan setelah kita mawas diri terhadap kondisi obyektif kota.

Pandangan saya tidak dimaksudkan untuk membatasi siapa pun apalagi warga Kota Sukabumi dalam memberikan pandangan, gambaran, dan penilaian tentang kotanya meskipun dengan pertimbangan perasaan. Saya memiliki prasangka baik, pandangan dan penilaian dalam bingkai politis juga tetap dilatarbelakangi oleh motivasi baik dalam diri warga kota, merasa memiliki dan ingin berperan dalam memajukan kotanya. Niat setiap orang selalu dimotivasi oleh ingin memiliki andil entah kecil atau besar terhadap apa pun. Undang-undang juga memberikan keleluasaan kepada setiap individu dalam berpendapat, berasumsi, dan berkontribusi.

Seperti apa Kota Sukabumi? Jawaban yang diinginkan dari pertanyaan ini adalah sebuah metafor atau paling tidak perbandingan sebuah kota dengan benda dan barang yang ada di sekitar kita. Mengingat di masa kejayaan mahluk bernama sapiens ini pandangan manusia dalam segi apa pun selalu dialamatkan secara lebih kepada manusia, saya akan mengilustrasikan wujud sebuah kota dengan tubuh manusia. Bukan tanpa alasan, manusia di mana pun selalu bangga mengatakan: manusia merupakan mahluk mulia jika dibandingkan dengan mahluk lainnya, hatta dengan malaikat sekalipun.

Kota Sukabumi merupakan proyeksi dari tubuh manusia. Mari kita bayangkan, (7) tujuh kecamatan di Kota Sukabumi mewakili organ-organ vital pada diri manusia. Cikole merupakan kepala, Citamiang diibaratkan bagian tengah badan manusia, Gunungpuyuh sebagai tangan kanan, Warudoyong sebagai punggung, Cibeureum sebagai tangan kiri, Baros sebagai kaki kiri, dan Lembursitu diibaratkan kaki kanan.

Otak Sebuah Kota

Melalui proyeksi tadi, pemerintah bersama masyarakat kota sebenarnya dapat dengan mudah menentukan tata ruang kota. Akal dan pikiran kota, kebijakan-kebijakan yang dilahirkannya, pembangunan infrastruktur vital seperti balai kota, gedung parlemen, sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga riset sebaiknya memusat di Cikole. Ini dilandasi juga oleh sejarah panjang Kota Sukabumi, misalnya penempatan balai kota sangat tepat pada ubun-ubun kota, dari sini kebijakan dan pemikiran harus lahir, otak harus benar-benar siap menerima respon rangsangan dari organ tubuh lainnya, otak harus mampu memberikan perintah penyeburan endorphin agar wajah kota selalu cerah.

Gedung parlemen ditempatkan tidak jauh dari balai kota, bukan tanpa kesengajaan, partikel-partikel di dalam kehidupan memang menghendaki demikian. Kita biasa menyebutnya takdir. Parlemen merupakan mulut, secara letter-lerk parlemen memiliki arti ucapan, omongan, sebuah lembaga yang dipenuhi ruang dialog. Hal yang sebaiknya dikeluarkan oleh mulut tentu saja tidak boleh mengedepankan sikap asal ucap, dalam terma kasundaan dikatakan “ulah dapon engab”. Mulut harus menerima asupan aspirasi sebagai sumber inspirasi bergizi.

Harus diakui, desentralisasi pemerintahan telah mengubah arah dan cara pandang kita. Pemerataan pembangunan infrastruktur selalu menjadi jargon dan judul besar pada program-program pembangunan. Ini tidak salah selama pemerataan pembangunan benar-benar memerhatikan struktur tubuh wilayah tadi. Tanpa memerhatikan itu, pembangunan infrastruktur akan selalu berakhir pada tidak efektifnya hasil, terbengkalai. Program seperti ini sebetulna tidak tepat disebut pembangunan melainkan upaya menghias diri. Bukan hal yang salah jika pelaksanaannya dilakukan secara temporer.

Perut Perekonomian

Kecamatan Citamiang merupakan organ badan bagian tengah dari Kota Sukabumi. Sebagai bagian dari organ tubuh di dalamnya memiliki organ-organ vital seperti jantung, paru-paru dan perut. Hal penting yang selalu berhubungan dengan perut adalah perekonomian. Jika harus disebutkan, perut perekonomian yang sebenarnya harus ditempatkan di Citamiang. Dan faktanya memang demikian, meskipun keramaian kota –termasuk perekonomian- tampak memusat di Cikole, tetapi alur perekonomian secara perlahan bergerak ke Citamiang.

Pemerintah dan masyarakat Citamiang sebaiknya mulai menyusun skala prioritas dan strategi peningkatan perekonomian. Era revolusi industri 4.0 menuntut kreativitas di berbagai bidang terutama ekonomi kreatif. Sebetulnya, pada lambung perekonomian inilah infrastruktur ekonomi seperti pasar, pusat perbelanjaan, industri kreatif harus menjadi bidikan prioritas. Tentu saja dengan tidak mengesampingkan profesi-profesi lain yang telah berjalan.

Tangan-tangan yang Siap Merangkul

Gunungpuyuh dan Cibeureum bagi Kota Sukabumi harus memiliki peran sebagai dua tangan yang siap merangkul. Tidak salah jika dua kecamatan ini dijadikan kepanjangan tangan pemerintahan melalui pembangunan gedung-gedung pemerintahan dalam satu kompleks. Sementara untuk pemindahan pusat pemerintahan memang harus dipikir ulang sebab porsi berpikir kota ini telah disematkan di Cikole. Hal paling tepat dilakukan adalah membangun perkantoran dalam satu kompleks.

Kedua tangan ini memiliki peran bergandengan tangan dengan wilayah tetangga (Kabupaten Sukabumi). Tangan harus kekar tetapi tidak digunakan untuk memukul melainkan untuk merangkul. Pada sisi lain, gerakan tangan harus terlihat gemulai agar dapat menarik perhatian orang lain. Apalagi dua kecamatan ini menjadi halaman utama wilayah perbatasan. Ibarat sebuah halaman, ia harus ditata dengan rapi untuk menampilkan kesan sikap mental pemilik rumah besar bernama Kota Sukabumi ini.

Tulang Punggung Kota

Kecamatan Warudoyong sebenarnya lebih tepat diposisikan sebagai ulu hati dan perasaan kota. Walakin, mengingat posisi kecamatan ini berada di sebelah selatan Gunungpuyuh dapat diilustrasikan sebagai sebuah punggung. Wilayah penyangga dari area bahu, pinggang, dan bagian belakang tubuh kota.

Kecamatan ini harus kokoh, sebagai ulu hati kita tidak dapat menyangkal kantor kementerian agama sangat tepat berada di Warudoyong. Kantor Kementeriaan Agama merupakan tulang punggung sekaligus penjaga rasa kota. Pancaran sikap, kerendahan hari, tawadlu, dan nilai spiritualitas Kota Sukabumi harus diperlihatkan di Warudoyong.

Dua kaki yang siap melompat

Baros dan Lembursitu saya sebut sebagai si dua kaki yang siap melompat. Penyangga utama, gerak langkah, dan irama lompatan kota terletak di dua kecamatan ini. Kedua kaki ini telah sekian lama berjalan menapaki pematang sawah, menyusuri sungai-sungai, bahkan tempat-tempat kotor sekalipun. Faktanya, di dua kecamatan ini terdapat Sungai Cimandiri, pemandian air panas, areal persawahan, dan Tempat Pembuangan Sampah Akhir.

Pembangunan karakter di dua kecamatan ini harus menjadi skala prioritas arah dan kebijakan pemerintah. Kaki tidak akan dapat berjalan apalagi melompat jika terserang penyakit tulang atau patah tulang. Zona pariwisata disematkan kepada Lembursitu saya pikir sudah tepat untuk mengokohkan pijakan masyarakat.

Bagi kota-kota di era digital, penyematan dan gambaran tubuh bagi sebuah kota jangan dimaknai secara lugas. Anda jangan pernah berpikir bahwa sebuah lembah bernama Silicon Valley merupakan tempat penambangan silikon. Nama itu merupakan sebuah sebutan bagi tempat di mana perusahaan-perusahaan besar teknologi dan informasi membangun markasnya di sana. Percayalah, Adobe Systems, Apple Computer, Cisco Systems, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel, dan Yahoo! tidak pernah mengeruk silikon di tempat ini.

Posting Komentar

0 Komentar