Maticman dan Lorong Waktu



Manusia urban hampir setiap hari membicarakan kemacetan, tata ruang kota, bagaimana kebijakan pemerintah daerah menempatkan PKL ke areal relokasi yang tepat, dan rebutan hak pengguna jalan antara para pejalan kaki dengan lahan parkir.

Seorang pengendara motor matic mengenakan kaca mata hitam, celana jeans, dia berasal dari daerah pinggiran, berjejal di antara bau keringat, himpitan sepeda motor, mobil, dan pejalan kaki. Kemudian Si Maticman mendengus: “Gila, macet! PKL dan lahan parkir yang tidak ditata itulah biang kemacetan ini!”. Tanpa menyadari jika dirinya menjadi salah satu bagian penyumbang kemacetan.

Aneh juga, saat lampu hijau menyala, klakson-klakson setiap kendaraan dinyalakan, kendaraan saling silang, meskipun tanpa kata-kata mereka sebenarnya menyampaikan pesan: minggir, beri aku jalan! Saat sebuah kendaraan tidak bergerak, para pengendara kendaraan di bagian belakang secara spontan mem-bully-nya dengan suara klakson, Tat tet tot!

Maticman langsung melotot dan menoleh ke samping saat seorang pengendara motor lain menyalipnya. Ribuan manusia memadati jalan itu jika dilihat dari atas menggunakan drone ibarat bakteri dilihat melalui mikroskop, terus bergerak.

Maticman tidak menyia-nyiakan kesempatan saat badan jalan di depannya kosong, langsung mengegas motor. Bayangkan jika badan jalan di hadapannya merupakan sebuah lorong waktu. Saat ngebut itulah, Maticman menembus lorong waktu, kemudian dia telah berada pada bagian jalan lain di tahun 1970. Semakin leluasa dia mengegas motor karena jalanan sangat lengang, sensasi di dalam dirinya meledak-ledak, ia mengibaratkan saat itu dirinya sedang memerankan seorang Valentino Rossi.

Sensasi memang selalu sesaat, saat sadar dan memperlambat kecepatan motor Maticman mengernyitkan kening, dan bergumam: “ Kotaku sepi, kemana riuh dan gemuruh mesin kendaraan, hanya ada delman-delman, mobil tua, sepeda motor antik, pejalan kaki meskipun banyak namun tidak semeriah saat beberapa menit lalu.

Apakah umat manusia di kota ini sudah sadar terhadap bahaya dan ancaman polusi? Apakah umat manusia di kota ini sudah sadar bahwa jalan memang berfungsi sebagai tempat lalu-lalang kendaraan? Dan umat manusia telah menyadari sepenuhnya fungsi trotoar? Terima kasih, Tuhan!

Bayangkan jika Maticman adalah diri anda! Seorang manusia era digital, pengendara motor matic, pengguna ponsel cerdas, dan penggerutu kemacetan tiba-tiba memasuki lorong waktu dan terjebak di tahun 1970. Satu jaman yang rentang waktunya masih tidak terlalu jauh dengan saat ini. Ada beberapa kemungkinan, anda akan bahagia sekaligus heran, jalanan lengang dan sepi, anda dapat leluasa mengendari sepeda motor.

Anda menghentikan sepeda motor, membuka helm, merogoh saku jaket, mengeluarkan ponsel cerdas, menyalakannya, kemudian mendengus, ponsel cerdas tanpa sinyal. Anda turun dari motor, mencari-cari posisi agar sinyal tertangkap oleh ponsel. Usaha anda akan sia-sia, sebab di tahun 1970 kehidupan manusia baru memanfaatkan gelombang elektromagnetik pada pemancar televisi dan radio. Anda bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah kota ini telah mati?

Anda tidak ingin terus-menerus dihinggapi rasa penasaran. Anda menyapa salah seorang pejalan kaki, tapi percayalah kehadiran anda sejak beberapa menit lalu itu sebetulnya telah menjadi pusat perhatian orang-orang. Mereka memandang diri anda sebagai manusia aneh dari planet lain. Cara berpakaian, penampilan, dan motor matic itu dipandang kendaraan teraneh yang baru mereka saksikan.

Dan anda pun sebenarnya akan bingung sendiri, apa yang harus anda tanyakan. Selanjutnya anda membeli penganan sederhana, seorang tukang tahu goreng sedang menjajakan dagangan. Si tukang tahu goreng tersenyum saat anda membayar jajanan, lalu bertanya, “ Ini uang apa?”.

Seribu cara anda lakukan untuk meyakinkannya bahwa uang ini nilainya Rp. 100.000,- tetap saja tukang tahu goreng tersenyum dan terbahak. “ Hahaha, tidak ada uang 100 ribu..”. Tukang tahu goreng mengambil uang itu selanjutnya memperlihatkan kepada orang-orang dan bertanya: “Apakah pemerintah telah mengeluarkan uang seperti ini?” Semua saling bertanya, saling tatap.

Anda semakin kaget saat tukang tahu goreng memperlihatkan uang sah sebagai alat tukar pada jaman itu. Pada uang kertas tertulis tahun 1970. Anda pasti akan berpikir sedang bermimpi atau sampai pada pikiran sangat ekstrim, “ Apakah aku sudah meninggal?” Anda akan menerka-nerka, pikiran akan menjawabnya, “ Aku belum mati, sebab di alam kubur tidak akan aku temui seorang tukang tahu goreng..!” Memang demikian, anda bahkan saya sampai saat ini tidak pernah menerima informasi bahwa di alam kubur akan ada tukang tahu goreng.

Setengah jam lalu anda mengomel karena terjebak di dalam kemacetan, saat ini pikiran anda benar-benar mengalami kebuntuan. Manusia-manusia tahun 1970 akan menertawakan anda jika mengaku bahwa anda adalah orang yang terlempar dari tahun 2019 ke tahun 1970. Anda akan dicap manusia tidak waras, gila, dan gendeng.

Orang-orang hanya akan takjub terhadap motor matic, ponsel cerdas, bukan memercayai bahwa anda benar-benar manusia yang terlempar dari masa depan. Cara aman yang sebaiknya anda lakukan adalah beradaptasi. Adaptasi merupakan cara ampuh yang dilakukan oleh nenek moyang manusia sejak ribuan tahun lalu. Itulah alasan kenapa spesies bernama manusia ini tetap ada dan bertahan sampai sekarang.

Siapa biang keladi di balik kemacetan?

Ada pepatah yang sering dituturkan oleh masyarakat kita, jangan saling menyalahkan, lebih baik menyalakan lilin daripada mengumpat kegelapan. Terhadap kemacetan hingga kesemrawutan tata kelola kota pun demikian. Karena manusia menempati ruang dan waktu yang sama, manusia memiliki peran dan andil terhadap persoalan, masalah, dan jalan keluarnya.

Saat kita mengumpat kemacetan di dalam kendaraan atau di atas sepeda motor, tudingan itu sebenarnya sedang dialamatkan kepada kita. Para pejalan kaki mengumpat karena haknya diambil alih oleh para pedagang kaki lima harus menyadari dirinya pun sedang merebut hak orang lain. Dari kejauhan, masyarakat langsung menunjukkan jari sambil berkata atau menuliskannya di media sosial: Apa sih kerja pemerintah, tidak mampu menata kota. Tidak mampu mengatasi kemacetan, dan tidak mampu menertibkan PKL, pada kemana? Manusia-manusia urban secara telaten akan terus-menerus bergumul pada perdebatan seperti itu.

Melalui sikap mawas diri lahir satu kesimpulan: biang kemacetan adalah kita! Biang buruknya tata kelola kota adalah kita! Lantas kita akan bertanya, kenapa orang-orang seperti kita ini lebih senang mengendarai kendaraan daripada berjalan kaki? Bukankah jalan kaki lebih menyahatkan? Kenapa manusia cenderung menyukai kerumunan dan keramaian, toh pergi ke pusat kota juga tidak seluruhnya berbelanja? Namun, bagi siapa pun meskipun manusia-manusia seperti kita mengunjungi pusat kota dengan mengendari sepeda motor atau mobil dengan percaya diri kita menyebutkan: jalan-jalan.

Sepanjang sejarah kehidupannya, manusia selalu berusaha mencari jalan keluar, solusi, dan jawaban terhadap persoalan hidup dengan dalih dan alasan apa saja. Saat kesepakatan dan konsensus telah terbentuk bersama, pada akhirnya manusia akan mencari kambing hitam siapa biang keladi di balik kemacetan? Mobil! Motor!.

Memang seperti itu, sejak peradaban manusia lahir, spesies yang sedang mengalami kejayaan ini selalu memuji atau menyalahkan apa yang ada di luar dirinya. Saat orang-orang melakukan kejahatan atau kita melakukan kesalahan, sosok setan yang disalahkan. Saat bencana menerjang, Tuhan diyakini sedang menguji kaum beriman dan mengazab pelaku maksiat. 

Dimuat di Radar Sukabumi, Rabu, 11 September 2019

Posting Komentar

0 Komentar