Reugreug Pageuh, Répéh Rapih




Motto yang dijadikan pepatah sekaligus memberikan semangat di dalam kehidupan masyarakat Kota Sukabumi yaitu: “ Reugreug Pageuh, Répéh Rapih”. Sepintas, empat kata ini seperti hanya merupakan sebuah kalimat tidak sempurna. Kalimat seperti ini merupakan kalimat sederhana, tidak memenuhi standarisasi SPOK dalam gramatika tata bahasa namun dapat mewakili kalimat sempurna. Di samping hal tersebut, diciptakannya motto ini tentu tidak dilakukan secara sembarangan kecuali melalui beberapa proses: olah-rasa, olah-pikir, dan olah-realita.

Reugreug pageuh memiliki arti keadaan hati dan sanubari yang dipenuhi kebahagiaan, ketenangan, karena persoalan kehidupan –antara lahir dan bathin- telah terpenuhi. Dua kata ini merupakan perwakilan dari diri manusia yang dipenuhi oleh sikap rasa syukur di dalam kehidupannya, mau menerima segala hal yang menimpa dirinya. Bukan hanya menerima segala perkara yang berkaitan dengan materi saja. Dengan sikap reugreug yang ada dalam diri manusia akan berusaha membangun hubungan yang kokoh atau pageuh antara pemerintah dan masyarakat, masyarakat dengan masyarakat, lebih lanjut lagi hubungan antara masyarakat dengan wilayahnya.

Diri manusia yang diliputi oleh sikap rela menerima atau sumerah diri dan reugreug disempurnakan oleh kehidupan masyarakat yang masih memegang kebiasaan, norma, dan nilai sudah tentu akan melahirkan satu kondisi yang tenteram dan tidak dipenuhi percekcokan (répéh rapih). Répéh memiliki arti tidak berisik dan cékcok oleh permasalahan tidak substantif. Percekcokan, pembicaraan kesana-sini, pertengkaran di dalam kehidupan disebabkan oleh sikap tidak menerima dan leghowo, artinya belum terpenuhi keinginan diri sendiri. Percekcokan ini tentu saja dapat melahirkan kondisi tidak tenteram atau tidak rapih.

Jika motto ini dijadikan kalimat sempurna, dimungkinkan akan muncul kalimat seperti ini: “ Untuk mewujudkan masyarakat yang reugreug harinya, harus dipegang pageuh norma dan kebiasaan saling menghormati, tepa selira, dan toleran agar kehidupan masyarakat menjadi répéh, tidak dipenuhi oleh bentakan dan hentakkan, sebuah masyarakat yang mempertontonkan rapih dan saling memuliakan.”

Beberapa tahun ini, kita tidak dapat menutup diri, kehidupan yang dikehendaki belum sepenuhnya sesuai dengan motto Reugreug Pageuh, Répéh Rapih. Tidak sedikit di dalam kehidupan masih banyak yang belum merasa reugreug, seolah banyak kebutuhan hidup belum terpenuhi di Kota Sukabumi. Di media sosial meriah oleh percekcokan demi alasan manusia memiliki hak yang sama dalam mengekspresikan pendapat dan mengeluarkan setiap kata. Yang diperdebatkan ini sebetulnya bukan masalah-masalah substansi. Lebih mengarah kepada percekcokan yang dipenuhi oleh sarkasme dan singgungan-singgungan, saling menghina, dan dipenuhi oleh kebencian.

Dua minggu lalu saya menuliskan: kita jangan terlalu menyia-nyiakan sikap senang mengeluarkan sindiran atau satire seolah sebagai sebuah kritikan. Kritik memang merupakan ciri sebuah masyarakat maju dan berperadaban selama dilakukan melalui saluran-saluran yang benar. Contohnya, dalam menyampaikan kritik atawa mengomentari kebijakan pemerintah sudah tentu –apalagi di era disrupsi- dikatakan sah jika kritik ditujukan kepada lembaga atau individu secara bijak.

Namun tentu saja sikap saya seperti di atas akan dipandang sebagai seorang yang anti terhadap kritik, padahal hanya bermaksud menempatkan kritik pada hal yang semestinya. Kritik sudah tentu sangat berbeda dengan sikap mencibir dan mengumbar kejelakan pihak tertentu secara membabi-buta. Arti kritik ini sendiri yaitu, kata yang diambil dari Bahasa Yunai “Krites”, seseorang mengeluarkan pandangan, pikiran, dan pendapat, memiliki alasan karena telah melalui serangkaian analisa, terukur, dan memiliki nilai.

Sangat tidak mudah dan ringan mewujudkan sebuah kota seperti Sukabumi ini agar menjadi daerah “Reugreug Pageuh, Répéh Rapih”. Motto ini bukan merupakan formula atau rumus melainkan merupakan sebuah tujuan dan cita-cita ideal seluruh warga kota. Untuk mewujudkannya memerlukan pikiran, tenaga, biaya, waktu, dan proses. Harus diakui, tidak sedikit kata dan kalimat yang dapat memotivasi warga kota untuk mewujudkan keinginannya, diantaranya; gawé rancagé, rempug jukung, sareundeuk saigeul sabobot sapihanéan, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak. Hal tersulit adalah mewujudkannya dalam praksis keseharian.

Dimuat di Radar Sukabumi, Senin 08 Juli 2019 di rubrik Opini.

Posting Komentar

0 Komentar