Pemkot Sukabumi Giatkan Skrinning Kesehatan Lanjut Usia



SUKABUMI- Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan lanjut usia (Lansia), Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Kesehatan Kota Sukabumi menggelar Rapat Koordinasi Perencanaan skrining kesehatan lansia, Senin (22/7) di Ruang Pertemuan Setda Kota Sukabumi. Hal ini sebagai bagian mewujudkan Kota Sukabumi sebagai kota santun lansia.

Wakil Wal Kota Sukabumi Andri Setiawan Hamami membuka secara resmi Rakor tersebut. Pada kesempatan itu ia menyampaikan berdasarkan PMK Nomor 4 tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan mlMinimal Bidang Kesehatan disebutkan bahwa pelayanan kesehatan pada usia lanjut adalah melakukan skrining yang dilakukan minimal 1 kali dalam setahun. Hal ini dalam upaya pemeriksaan untuk penyakit menular dan penyakit yang tidak menular yang meliputi, pengukuran tb, bb dan lingkar perut, pengukuran td, pemeriksaan lab gula darah dan kolesterol, pemeriksaan gangguan mental, gangguan kognitif, kemandirian dan anamnesa perilaku beresiko.

Pelayanan kesehatan lansia kata Andri, merupakan salah satu indikator standar pelayanan minimal. Dimana pelayanan skrining yang harus memenuhi seluruh 7 (tujuh) kriteria diatas dan diberikan di puskesmas dan jaringannya serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Cakupan pelayanan usia lanjut di kota sukabumi tahun 2018 baru mencapai 38,73 persen

" Salah satu permasalahan yang mendasari cakupan pelayanan lansia belum memenuhi target pencapaian 100 persen adalah belum terpenuhinya alat deteksi kolesterol melalui anggaran APBD,'' cetus Andri. Oleh karena ltu dalam rangka pencapaian standar pelayanan minimal diperlukan strategi yang dilakukan pemerintah daerah dalam upaya pencapaian target standar pelayanan minimal (SPM) dibantu oleh semua lintas sektor terkait.

Pada tahun 2019 ini ungkap Andri, pemenuhan stik kolesterol melalui anggaran APBd hanya bisa memenuhi sebanyak 4000 stik yang digunakan untuk seluruh pelayanan kesehatan. Sehingga melalui kegiatan ini diharapkan adanya kontribusi dari seluruh peserta rapat dalam mencapai target pelayanan kesehatan lansia 100 persen terutama khususnya pemenuhan alat deteksi atau pemeriksaan kolesterol sehingga “lanjut usia mandiri, sejahtera, dan bermartabat" dapat tercapai di Kota Sukabumi.

Berdasarkan data riskesdas 2007 kata Andro, umur harapan hidup di Indonesia ini meningkat pada tahun 2004 yakni 68,6, tahun 2010 selama 70,6, tahun 2014 naik menjadi 72. Kondisi tersebut menggambarkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk lansia.

Berdasarkan data Demografi jumlah lansia di Kota Sukabumi pada tahun 2019 sebanyak 45.063 orang atau 13,36 persen dari jumlah penduduk 344.797 orang. Di sisi lain jumlah posbindu di Kota Sukabumi sampai dengan tahun 2019 sebanyak 211 posbindu dibandingkan dengan tahun 2018 yakni 204 posbindu, ada peningkatan sebesar 7 posbindu.

'' Secara alami proses menjadi tua mengakibatkan seseorang mengalami perubahan fisik, mental, spritual, ekonomi dan sosial,'' imbuh Andri. Salah satu permasalahan yang sangat mendasar adalah masalah kesehatan, sehingga diperlukan pembinaan lanjut usia bahkan sejak usia dini.

Masalah kesehatan yang dialami oleh lanjut usia adalah munculnya penyakit degeneratif akibat proses penuaan, gangguan (Malnutrisi), penyakit infeksi pada kelompok pra usia lanjut serta masalah kesehatan gigi dan mulut, demensia, dan lainya. Andri berharap tujuan Rakor agar skrining kesehatan lansia, dilakukan serentak di Kota Sukabumi dalam rangkaian Hari Lansia ke 23 di Kota Sukabumi. Tersusunya strategi pemenuhan standar pelayanan minimal terutama kesehatan lansia melalui kerjasama berbagai lintas sektor terkait.

" Adanya layanan skrining kesehatan lansia terintegrasi di wilayah,'' kata Andri. Pemenuhan alat defeksi khususnya pemeriksaan kolesterol melalui kerjasama dari seluruh peserta rapat dan tersusunnya rencana tindak lanjut kegiatan.


Penulis : Ovie
Tata Letak : Kang Warsa

Posting Komentar

0 Komentar