Pemkot Peringati Hani dan Harganas



SUKABUMI - Upacara peringatan hari anti narkotika nasional Internasional (HANI) dan hari keluarga nasional (Harganas) ke-26 tingkat Kota Sukabumi dilakukan di Lapang Apel Setda Kota Sukabumi Selasa (2/7). Kegiatan ini menjadi momentum untuk menekankan pentingnya keluarga dalam membentuk tatanan yang baik di masyarakat.


Di sisi lain, peringatan hari anti narkotika digiatkan dalam rangka memperkuat upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Hadir dalam kesempatan itu Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi dan Wakil Wali Kota Sukabumi Andri Setiawan Hamami. Selain itu Ketua Tim Penggerak PKK Kota Sukabumi Fitri Hayati Fahmi dan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Eva Siti Rahmatillah beserta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).


'' Setiap 29 Juni diperingati sebagai hari keluarga nasional sesuai amanat keputusan Presiden Nomor 39 tahun 2014 tentang Hari keluarga nasional,,'' ujar Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi dalam sambutannya. Peringatan ini dimaksudkan agar warga mempunyai pandangan betapa pentingnya peranan keluarga dalam membentuk tatanan masyarakat yang baik.


Dimana kata Fahmi, penanaman nilai dan norma baik dimulai dari unit terkecil dari masyarakat yakni keluarga. Dari kelembagaan keluarga nantinya dapat membentuk karakter dan pola perilaku seluruh angota keluarga berdasarkan nilai dan norma agama yang dianut.


Fahmi menerangkan, institusi keluarga dapat menyaringi informasi dari luar yang dipandang tidak selaras dengan norma agama dan budaya masyarakat. Keluarga juga berfungsi sebagai transfer nilai agama dan kearifan budaya lokal.


'' Sehingga tidak bisa sepenuhnya menyerahkan urusan pendidikan anak-anak ke sekolah dan madrasah tanpa melibatkan peran orangtua atau keluarga,'' imbuh Fahmi. Hal terpenting dalam keluarga adanya keteladanan dari para orangtua.


Bila orangtua mengajar kepada kebaikan lanjut Fahmi, maka orangtua sendiri harus melakukannya terlebih dahulu. Sehingga menjadi contoh bagi anak. 


Intinya ungkap Fahmi, keteladanan di dalam keluarga mampu membentuk anak dan keluarga jujur istikomah, harmonis dan bahagia. Di sisi lain, pemerintah secara jujur mengakui akhir-akhir ini disibukkan dengan strategi pembangunan makro dan nampaknya lalai pembangunan berbasis keluarga.


Padahal tutur Fahmi, keseriusan menata keluarga melalui program KB beberapa waktu lalu dapat kendalikan jumlah penduduk secara signifikan dan mendapatkan penghargaan PBB. Pentingnya KB ini karena jumlah penduduk tidak terkendali mengganggu kesejahteraan masyrakat, yakni makin tinggi penduduk maka makin tinggi kebutuhan pemerintah dalam membangun infrastruktur pendidikan, kesehatan dan pelayaanan publik lainnya.


'' Kami akan membangkitkan program KB yang sudah dirintis serius di awal era kepemimpinan presiden Soeharto,'' kata Fahmi. Memang yang muncul ke permukaam program konsep KB dua anak cukupz tetapi tidak hanya itu program KB diarahkan merencanakan pola pembangunan berbasis keluarga sistematis dan komprehensif seperti perencanaan kehamilan dsn menjaga kesehatan ibu dan anak.

Dengan program KB ini kata Fahmi jumlah penduduk terkendali dan negara mampu memberikan kontrol dan pelayanan bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan.


Di sisi lain, pada momen hari anti narkotika internasional, wali kota menyadari benar narkotika dewasa ini telah menjadi salah satu musuh negara yang sangat serius untuk ditanggulangi secara komprehensif. '' Upaya ini dengan melibatkan elemen bannga baik instansi pemerintah dan komponen masyarakat,'' ujar Fahmi.


Indonesia lanjutnya memiliki cita-cita menjadi negara dengan perekonomian terkuat kelima dunia pada 2045. Untuk mewujudkan cita cita itu diperlukan sumber daya manusia yang produktif, inovatif dengan kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.


Dalam mewujudkan Indonesia sebagai raksasa ekonomi dunia pada tahun 2045 tersebut kata Fahmi tiada lain mengandalkan Generasi Milenial. 


Namun ungkap Fahmi, cita-cita bangsa Indonesia tersebut bisa saja pupus, terutama kalau SDM-nya yang sebagian besarnya adalah generasi milenial, terpapar bahaya narkotika. Apalagi, penyalahgunaan narkoba pada generasi milenial, saat ini sudah menjadi permasalahan yang sangat krusial, tidak saja di level daerah dan nasional, tetapi menjadi permasalahan global. 


Fahmi menuturkan, merujuk pada survey BNN dan LIPI pada tahun 2018 di 13 ibu kota provinsi di Indonesia, didapatkan data bahwa 3,2 persen pelajar/mahasiswa atau setara dengan 2,3 juta orang mengalami penyalahgunaan narkoba dalam satu tahun terakhir. Sementara untuk kelompok pekelja persentasenya sebesar 2,1 persen atau setara dengan 1,5 juta jiwa. 


Kondisi tersebut tutur Fahmi, menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa upaya penanganan bahaya narkotika tidak hanya dilakukan secara masif semata tetapi harus dilakukan secara agresif terutama bagi generasi milenial. Sehingga momen hari anti narkotika tahun ini mengambil tema “Millenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas”. 


Selain terbebas dari narkotika ujar Fahmi, pemkot mengharapkan bahwa generasi millenial dapat berperan aktif sebagai agen untuk menyebarluaskan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Dengan ciri khas kepemilikan gadget dan penguasaan teknologi informasi yang melekat pada generasi millenial, mereka dapat menjadi agen yang efektif dalam mengkampanyekan bahaya narkoba melalui media internet, serta media-media Iainnya.


'' Mudah-mudahan upaya serius dalam mencegah dan memberantas bahaya narkoba dapat membuahkan hasil berupa terjaganya SDM dari perilaku-perilaku yang buruk dan tidak terpuji,'' kata Fahmi. Selain itu membuahkan hasil berupa sumber
Penguatan pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN).

Posting Komentar

0 Komentar