Parebut Sééng


Satu minggu lalu, Jumat 25 Januari 2019 saya agak siang ke kantor -Pemkot Kota Sukabumi-. Berangkat dari rumah pukul 7.05 WIB. Sepanjang perjalanan menuju kantor dalam benak saya terus menggerutu -karena pelaksanaan Apel Pagi bagi pegawai di Lingkungan Pemkot Sukabumi sudah diwajibkan- saya sudah dapat dipastikan tiba di kantor pada pukul 07.35 WIB atau lebih, artinya akan kesiangan lima menit dari pelaksanaan apel pagi.

Saya tidak akan menyalahkan jalanan di Kota Sukabumi yang sudah mulai menyamai jalan-jalan di kota besar lainnya, terutama dalam kemacetan. Kemacetan bukan hal aneh bagi masyarakat urban seperti saya, dan tentu bagi manusia-manusia di era Revolusi Industri 4.0 ini. Di era seperti ini manusia sebagai penyumbang atau kontributor kemacetan itu sendiri pun dapat mengomentari kemacetan tanpa sadar jika dirinya sedang menjadi bagian pembuat macet.

Artinya, percuma saja kemacetan dijadikan alasan kesiangan. Saya lebih memilih untuk menunjuk hidung diri sendiri saja, bahwa kesiangan atau kepagian orang-orang modern datang terlambat atau tepat waktu ke kantor lebih dipengaruhi oleh cara kita mengatur waktu. Celakanya, waktu yang seharusnya diatur oleh kita itu justru kita sering terjerembab dalam putaran waktu atau masa itu sendiri. Mengenai bagaimana waktu mengurai habis mahluk penghuni alam (bumi) silakan ditonton saja Film Dr Strange.

Benar juga, tiba di Balai Kota tepat pukul 07.35 WIB, ada baiknya, hujan mulai turun lagi meskipun rintik, para pegawai telah berjajar rapi, siap diserbu oleh ceramah atau wejangan pembina upacara. Saya masuk barisan, ya sudah tentu upacara apel pagi di lingkungan Pemkot meskipun formal namun lebih familiar dibanding upacara-upacara kenegaraan. Artinya, kesiangan atau tidak kesiangan hanya dibedakan dari rasa malu atau tidak malu saja.

Sekali lagi, berhubung hujan mulai turun, rintik-rintik, tetapi dianggap oleh peserta apel pagi seperti serbuan rentetan peluru yang dicurahkan dari langit. Peserta mulai goyah, tidak dapat khidmat lagi menyimak apa yang disampaikan oleh pembina hingga apel pagi segera dibubarkan.

Persoalan ini bukan berarti pegawai atau aparatur di era sekarang lebih takut oleh hujan daripada harus menunaikan kewajiban. Sikap familiar dan iklim yang begitu cair inilah sebagai pemantik paling dominan terhadap sikap manusia. Artinya, sikap seperti ini telah banyak dikembangkan oleh pemerintah-pemerintah di luar negeri -sana- daripada harus mengambil kebijakan ortodoks yang cenderung kaku. Beberapa sisa pekerjaan saya selesaikan selama 15 menit saja. Melakukan editing script website agenda kegiatan Pemkot dan menelaah beberapa pemberitaan media Sukabumi. Saya tidak terlalu konsern dan serius mengikuti perkembangan pemberitaan media baik skala lokal atau internasional, akhir-akhir ini saya cenderung lebih semangat membaca kolom, artikel, atau opini, dan beberapa bahasan yang menampilkan data-data di media. Dapat saja, karena informasi memang cenderung lebih mudah didapat di era sekarang pada akhirnya menggiring mengecilnya daya sensitif manusia terhadap berita yang ditampilkan oleh media. Belum ada penelitian serius terhadap persoalan ini.

Setelah Jumat ini bukan berarti hari setelah Jumat. Karena kata Jumat ini bagi umat Islam telah mengalami penyempitan makna dari hari menjadi sholat mingguan, saya mengunjungi Dinas Komimfo. Tanpa sengaja berpapasan dengan Kang Endang, seorang penulis berita website resmi Pemerintah Kota Sukabumi. Kang Endang biasa menulis berita berbahasa Sunda setiap hari Jumat dan Sabtu. Selanjutnya kami bercengkerama ngalor-ngidul, membicarakan asal-usul, dan pada akhirnya saya harus mengacungkan jempol terhadap semangat seorang Kang Endang, penulis seusia beliau yang sudah jarang ditemui apalagi untuk ukuran Kota Sukabumi. Sukabumi sebetulnya bukan minim oleh penulis, karena secara berkala warga masyarakat apalagi pengguna medsos hampir setiap hari dapat menyampaikan isi kepala mereka pada status-statusnya.

Yang telah hilang dari masyarakat kita sekarang ini adalah semangat “membaca hal-hal yang baik”, hal-hal yang bukan hoaks alias berita palsu. Hanya saja, anehnya, masyarakat malah lebih intens membaca berita hoaks daripada berita jujur berbasis data. Kang Endang memperlihatkan satu lembar kertas, tulisan berbahasa Sunda tahun 1993 yang beliau tulis di Tabloid Giwangkara berjudul: Seni Parebut Sééng ditempelkan pada kertas tersebut. Beliau sengaja mengambilnya dari RSPD FM, tulisan berumur hampir 26 tahun. Parebut Sééng merupakan satu kesenian di Sukabumi -lebih luas Tatar Sunda- yang biasa dipraktikkan pada upacara seserahan saat pernikahan. Tentu saja seni ini telah hampir tidak dilakukan lagi oleh masyarakat Sunda.

Alasannya sudah jelas: tergerus oleh budaya modern. Melihat tulisan Kang Endang sudah hampir 26 tahun, artinya kesenian Parebut Sééng sudah dua dekade ini mulai tidak dikenali oleh masyarakat Sukabumi beriringan dengan ditinggalkannya upacara seserahan dari pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan. Seserahan di era modern ini telah diganti oleh selimut yang dipola menjadi angsa daripada mempelai laki-laki menyerahkan kasur kapuk (kapas) kepada mempelai perempuan.

Dikaitkan dengan kondisi Kota Sukabumi yang mulai menggeliatkan kembali aktivitas seni dan budaya,keberadaan kesenian tradisional seperti parebut sééng harus menjadi narasi besar dalam ruang dialog terkait kebudayaan. Harus saya akui, sekalipun ruang dialog kebudayaan di Kota Sukabumi ini masih jarang dilakukan dan tampak sempit, paling tidak ruang-ruang diskusi dan obrolan harus diarahkan oleh para aktivis seni dan budaya kepada pembahasan seni dan budaya.

Artinya, dalam menarasikan seni dan budaya yang ada di Kota Sukabumi ini kita harus mengawalinya dengan jujur kepada diri sendiri terhadap kesenian dan budaya lokal saat ini telah jarang dibahas, diwacanakan, apalagi dilakukan secara massal (sosial kultural).

Dimuat dalam Opini, Radar Sukabumi, pada tanggal 07 Maret 2019

Posting Komentar

0 Komentar